“Aku dan Masa Depanku”. Itulah tema yang diusung dalam kegiatan Retret atau Bina Karakter oleh SMP Xaverius 4 Bandar Lampung tahun 2024. Kegiatan bertajuk “mengolah mental dan spiritual” tersebut dilaksanakan di rumah Khalwat Ngison Nando, Kalianda, Lampung Selatan. Kegiatan dilaksanakan selama 5 hari yang terbagi menjadi 2 gelombang dengan jumlah peserta didik 132 anak. Bersama RD. Pius Wahyo AR sebagai pemateri 1 dan Fr. Damianus Glorasion sebagai pemateri 2, peserta didik diajak berdinamika bersama guna mengasah dan mencoba merenungkan arti masa depan bagi mereka dan cara mencapainya dengan segala proses yang pasti tidak mudah. Bu Siska dan bu Titis memimpin dinamika yang seru dan menarik selama kegiatan berlangsung.

Pada hari ke 1, kegiatan dimulai dengan pembukaan secara resmi oleh panitia dengan mengalungkan name tag pada perwakilan peserta didik sebagai tanda kegitan dimulai sampai 3 hari 2 malam kedepan. Sesi yang pertama dengan materi “Spiritualitas Binter” dibawakan oleh RD. Pius berisi dasar spiritualitas binter yang wajib peserta miliki dan sadari saat proses binter berlangsung. Sesi kedua dan ketiga yang saling berkesinambungan dibawakan oleh Fr. Glorasion dan pak Gigih. Pada sesi ini peserta didik diajak memiliki keyakinan akan rencana yang disiapkan oleh Tuhan akan masa depan mereka dan mereka diajak juga secara matang menyusun masa depan yang penuh tantangan. Para peserta didik sangat antusias dan aktif mencurahkan ide serta gagasan dengan dinamika rancang bangun masa depan tersebut.

Pada sesi selanjutnya para peserta didik secara bergantian menampilkan pentas seni yang telah disiapkan oleh mereka. Pentas seni kali ini sangat berbeda dan tidak bisa diperkirakan karena peserta didik yang notabene pendiam dalam kelas, tetapi saat berpentas seni, mereka malah sangat aktif dan menampilkan penampilan yang luar biasa. RD. Pius dan Fr. Glorasion yang menjadi juri cukup kebingungan untuk menentukan juara karena semua kelompok sangat bagus. Kegiatan hari ke 1 ditutup dengan ibadat malam yang dipimpin oleh pak Fritz. Peserta didik sangat khusyuk dalam berdoa dengan benar-benar mencurahkan isi hati mereka lewat doa ungkapan hati.



Hari ke 2 dimulai dengan misa pagi yang diikuti peserta didik yang beragama Katolik dan peserta didik non-Katolik melakukan meditasi serta senam pagi lapangan. Sesi dimulai dengan materi “Dekadensi Moral” yang berisi tentang permasalahn hidup saat ini yang penuh kemunduran dan jatuhnya moral manusia. Maka pertobatan serta penyadaran diri betapa pentingnya moral menjadi tujuan dalam sesi ini.

Kegiatan selanjutnya adalah makan bersama. Peserta didik bersama kelompok mereka masing-masing saling berbagi makan di tumpeng yang telah disiapkan. Kepedulian dan kerjasama telatih pada momen ini karena peserta didik saling berbagi dan bersukacita dalam menghabiskan makanan yang telah disediakan. Setelah makan, mereka mempersiapkan outbond yang nantinya berjumlah 6 pos dengan pembagian 5 pos per 2 kelompok dan pos terakhir pos kebersamaan.

Selama proses outbond, peserta didik sangat antusias dan dengan kerjasama penuh mengikuti aturan permainan yang ada. Di pos kebersamaan, peserta didik dengan sukacita bermain air, kebersamaan dan kepedulian terlihat dan terbentuk dalam momen ini. Setelah outbond selesai, mereka mandi dan bersiap untuk makan snack. Sesi sore hari adalah meditasi horizontal. Pada sesi ini, pak Fritz dan bu Titis mengajak peserta didik untuk menempatkan diri secara nyaman dan rileks guna mencapai meditasi yang paripurna.

Kegiatan malam adalah kegiatan kebersamaan, namun sebelum itu peserta didik mengikuti ibadat cinta “Stairway to Heaven” yang dipimpin oleh RD. Pius. Pada ibadat ini peserta didik diajak untuk secara sadar dan penuh kesungguhan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. RD. Pius mengajak peserta didik sadar bahwa manusia dalam proses hidupnya selalu bersama dengan orang lain yaitu orang tua, teman, guru dan sanak saudara mereka. Di akhir ibadat, peserta saling berpelukan dan meminta maaf pada guru dan teman mereka sebagai tanda kesadaran diri bahwa selama ini mereka pasti memiliki kesalahan dan dosa. Dan mereka diajak untuk membuat surat cinta kepada orang tua mereka masing-masing. RD. Pius juga membuka tempat untuk para peserta didik yang ingin mengaku dosa. Kegiatan malam kedua ditutup dengan malam keakraban yakni makan bersama, bernyanyi bersama dan bersenda gurau bersama.
Pada hari ketiga, sesi terakhir adalah RTL atau “rencana tindak lanjut” yang berisi rencana yang akan dibangun peserta didik untuk masa depan mereka. Kegiatan ditutup dengan Misa Kudus oleh RD. Pius Wahyo sebagai ungkapan syukur telah selesainya kegiatan binter. Sebelum pulang, peserta didik disuguhkan video pendek yang telah disiapkan oleh pak Budio yang berisi semua rangkaian kegiatan yang telah mereka lakukan selama 3 hari 2 malam. Canda tawa mewarnai momen ini karena mereka bahagia melihat tingkah laku mereka selama kegiatan berlangsung. Sebelum bersiap pulang menuju Bandar Lampung, suster Bernarda HK selaku perwakilan suster di rumah khalwat Ngison Nando memberi sambutan dan rasa terimakasih karena telah sukses mengikuti kegiatan binter.
Dengan adanya retret/binter ini pihak sekolah berharap peserta didik semakin mengenal dirinya, lalu bisa menyadari betapa pentingnya perencanaan hidup yang matang guna menjalani proses kehidupan yang penuh tantangan. Retret yang artinya adalah kembali atau mundur secara khusus mengajak seluruh peserta didik kembali merenungkan peran Tuhan dalam diri dalam keheningan batin yang mendalam. Semoga dengan kegiatan retret/binter yang telah dilakukan, bisa menjadi salah satu cara untuk membantu peserta didik dalam mempersiapkan diri menjalani kehidupan mereka di masa mendatang.
(Korbinianus Fritz Cahya Nugraha)
