smpxaverius4bdl.sch.id, BANDAR LAMPUNG – “Bu,saya ini punya bapak tapi saya merasa seperti anak yatim, dari kecil gak ada sedikitpun merasakan sosok bapak yang hadir di dalam hidup saya…”
Salah satu kata-kata yang sangat saya ingat saat menjalani layanan konseling dengan salah satu murid. Ternyata peran dan kehadiran sesosok ayah dalam perkembangan anak itu sangatlah penting. Tidak hanya itu, melihat salah satu anak kecil yang sedang viral yakni “Abe Cekut” yang sangat dekat dengan ayah nya menunjukkan peran dan tugas ayah dalam parenting itu sangat besar. Fenomena Fatherless di Indonesia menurut data UNICEF pada tahun 2021, sekitar 20,9% anak-anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran sesosok ayah dan menduduki peringkat ke 3 sebagai Negara Fatherless Country di dunia.
Apa sih Fatherless itu? Fatherless adalah kondisi ketika anak tidak merasakan kehadiran ayah secara fisik maupun psikis. Kehilangan kasih sayang seorang ayah walaupun terlihat seperti tidak ada masalah tetapi akan dapat berdampak buruk bagi perkembangan sang anak. Ayah adalah sumber rasa aman bagi seorang anak dalam menjalani kehidupan nya, jika anak tidak mendapatkan rasa aman itu sejak dini kelak saat dewasa nanti sang anak akan kebingungan akan menjalani kehidupannya. Fatherless ini banyak penyebabnya dari meninggal dunia, perceraian, pola asuh otoriter atau permisif, pekerjaan yang merenggangkan hubungan antara ayah dan anak.
Keterlibatan peran ayah yakni menjadi pemimpin, motivator dan seorang sahabat. Tugas ayah jelas yakni sebagai penyedia materi bagi keluarga tetapi tugas ayah pun sebagai pengasuh dan pelindung bagi keluarga. Jika peran dan tugas ini tidak ada di dalam seorang ayah maka dapat berdampak pada diri sang anak yang akan kesulitan berinteraksi dan beradaptasi, masalah perilaku dan disiplin, masalah emosional, perilaku yang menyimpang dan menutup diri, daddy issue , self esteem, bahkan dapat terganggu nya kesehatan mental.
Karena tanggungjawab anak tidak hanya salah satu orang tua saja tetapi kedua orang tua, yakni ayah dan ibu. Ayah dan ibu perlu adanya kolabarasi dalam membesarkan anak. Kedua peran dan tugas sangatlah penting bagi perkembangan anak. Mata rantai yang pernah orang tua rasakan harus diputuskan dan tidak di ulangi pada proses mendampingi anak. Kesiapan dan kematangan dalam berkeluarga juga perlu di siapkan dalam mendampingi, merawat, dan menjaga anak-anak kita. Sehingga terhindar dari labeling “Punya Ayah Rasa Tidak Punya Ayah”.
Penulis : Cecilia Regita Mutiara