smpxaverius4bdl.sch.id, BANDAR LAMPUNG – 17 Februari 2025, Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat mendorong semangat orang muda untuk terus berinovasi mengembangkan diri melalui berbagai cara khususnya media sosial. Hampir semua aktivitas orang muda diposting sebagai bentuk berbagi cerita. Dengan demikian media sosial bukan lagi sebagai sarana melainkan menjadi “dunia”nya orang muda. Kondisi tersebut digambarkan dengan istilah Fomo dan Fopo.
FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, adalah sebuah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan perasaan takut ketinggalan pada sesuatu yang sedang populer atau sedang terjadi di sekitar kita.
FOPO (Fear of Other People’s Opinions) adalah perasaan cemas atau khawatir yang timbul karena terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Orang yang mengalami FOPO seringkali merasa perlu mendapatkan persetujuan dari orang lain dalam segala hal yang mereka lakukan.
Situasi seperti itu juga merasuk dalam diri para pendidik di SMP Xaverius 4 Way Halim Bandar Lampung yang didominasi oleh orang muda generasi milenial dan sebagian kecil generasi Z. Guna mewadahi aspirasi dan kreatifitas orang muda yang melezat cepat, perlu dibangun pertahanan diri yang dapat merangkul lintas generasi sehingga tetap menampilkan pola Pendidikan sesuai amanat UUD 1945, Visi Gereja, dan Visi sekolah sehingga dunia maya yang digeluti menjadi hadir di dunia nyata.
Berdasarkan fenomena tersebut maka lahirlah spiritualitas One Heart for Education : Satu Hati untuk Pendidikan. Spiritualitas ini diharapkan mampu menjadi kekuatan positif dalam membangun semangat dan jiwa orang muda mencapai cita-cita luhur bangsa dan Gereja “semoga mereka menjadi satu…Yohanes 17;21)
Filosofi/spiritualitas “satu hati untuk pendidikan” mengandung makna yang sangat mendalam tentang pentingnya kesatuan visi, misi, dan upaya dalam memajukan Pendidikan khususnya di SMP Xaverius 4 Way Halim Bandar Lampung yang memiliki motto HK3P (Humanitas , Kecerdasan, Kejujuran, Kedisiplinan dan Pelayanan) dengan Visi Unggul dan trasformatif secara berkesinambungan. Spiritulitas tersebut menyiratkan makna:
- Pendidikan sebagai tanggung jawab bersama: Pendidikan bukanlah semata-mata tugas guru, orang tua, atau pemerintah. Melainkan, tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung tumbuh kembangnya anak.
- Kesatuan tujuan: Semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Dengan satu hati, upaya yang dilakukan akan lebih ringan, terarah dan efektif.
- Sinergi dan kolaborasi: Untuk mencapai tujuan bersama, diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak. Guru, orang tua, siswa, pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait harus bekerja sama secara harmonis.
- Pentingnya dukungan: Setiap individu membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar untuk mencapai potensinya. Dukungan yang tulus dan konsisten akan memberikan motivasi dan semangat bagi peserta didik untuk terus belajar dan berkembang.
- Nilai-nilai kemanusiaan: Pendidikan tidak hanya sebatas transfer pengetahuan, tetapi juga penanaman nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang, toleransi, dan gotong royong. Dengan satu hati, kita dapat menciptakan generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Dengan demikian layak dinamakan anak Indonesia hebat.
Spiritualitas “one heart for Education : satu hati untuk pendidikan” merupakan sebuah konsep yang sangat sederhana namun relevan dalam konteks pendidikan saat ini. Dengan mengimplementasikan spiritualitas ini, kita dapat menciptakan sistem pembelajaran yang lebih baik dan melahirkan generasi yang siap menghadapi masa depan dengan hati gembira.
Makna warna tulisan :
- Putih : ketulusan hati
- Merah : sukacita
- Biru : percaya diri
- Hijau : harapan
- Kuning emas : keagungan
- Hitam : kekuatan
“One Heart for Education”
Penulis : Sr. Theresiana, HK.
