Pada hari Sabtu, 20 April 2024 SMP Xaverius 4 Bandar Lampung mengikuti lomba OGOH-OGOH MINI#3 se-Propinsi Lampung di Kecamatan Seputih Raman Lampung Tengah yang diselenggarakan TUNAS REMAJA Komunitas Hindu “PASRMAN ADITYA DHARMA RAMA GUNAWAN”. Peserta lomba yang mengikuti adalah I Putu Rajdeep R.I, Dionisius Dexter T dan Noah Eliezer ketiganya kelas IX dengan mengangkat cerita tentang “GANAPATI MURTI” dengan cerita berikut ini :
Seekor tikus Gajamugasuran. Ia mendapat anugrah Dewa Siwa karena telah dengan sangat kuat melakukan penebusan dosa. Ia juga diberi kesaktian pinih tanding. Karena kesaktiannya ia tergelincir menjadi ‘wegig’ dan sangat jahat, sampai-sampai melukai para dewa.
Perilaku Gajamugasuran membuat para Dewa dan Rsi dalam kesusahan. Tak terhitung tindak tanduknya yang tiada kenal ampun, melukai mereka yang tidak pernah terlukai hatinya, menyayat pikiran mereka yang selama ini dikenal teguh pikirannya. Ia mampu membuat para dewa yang tak pernah menangis menjadi tertunduk lesu dan menitikkan air mata.
Para dewa tidak berdaya dengan kesaktian Gajamugasuran. Hanya Dewa Siwa yang memberi anugrah kesaktian yang bisa menolong. Para dewa berdoa agar Dewa Siwa bersedia menolong dan memunahkan kesaktian Gajamugasuran. Dewa Siwa mengirim Dewa Ganapati (Dewa Ganesa/Winayaka) untuk menundukkan Gajamugasuran.
Gajamugasuran yang diperangi oleh putra Dewa Siwa akhirnya kocar-kacir dan bersembunyi menjelma menjadi tikus kecil (mushaka). Dewa Ganesa melucuti keangkuhan dan kesombongan sang tikus kecil yang tiada lain adalah jelmaan Gajamugasuran. Gajamugasuran yang telah berwujud tikus itu diduduki Dewa Ganesa dan tertunduk. Sang Mushaka (demikian tikus jelmaan Gajamugasuran disebut) yang tunduk kemudian menjadi wahana/kendaraan Dewa Ganesa.
Tikus, dalam mitologi Hindu, bukan makhluk sembarangan. Jika kita lenggah, tidak merawat dan hormat pada pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk lontar-lontar dan buku-buku, Sang Mushaka (tikus) akan melahap ludes dan pralina (daur ulang) lontar-lontar itu. Ia mampu meluluh lantak segala wujud alami, mampu meluluh lantak hati kita.
Di Bali sendiri, tikus tidak boleh dihujat, tidak boleh disalahkan dan dicaci, tidak boleh diburu dengan sembarangan. Sang Mushaka diberi gelar penghormatan sebagai Jro Ktut.
